Foods

Takana Juo, Sate Padang Pariaman yang Eksis Lezatnya Sejak 1979


Jakarta

Sate Padang Pariaman ini sudah ada di kawasan Bendungan Hilir sejak 42 tahun lalu. Bumbu pedas khas Pariaman membuat sate Padang ini tetap eksis hingga kini.

Sate Padang termasuk salah satu kuliner kaki lima favorit orang Jakarta. Biasanya sate Padang laris diburu di malam hari untuk mengganjal perut yang lapar.

Meski sama-sama berasal dari Sumatera Barat, sate Padang ternyata punya beberapa versi berdasarkan wilayahnya. Diantaranya sate Padang gagrak Pariaman, Bukittinggi, dan kota Padang itu sendiri.

Takana Juo mengusung gagrak Pariaman

Takana Juo, Sate Padang Pariaman yang Eksis Lezatnya Sejak 1979Takana Juo, Sate Padang Pariaman yang Eksis Lezatnya Sejak 1979 Foto: detikfood

Hal tersebut disampaikan Agus Dirman, pemilik usaha Sate Padang Takana Juo di Bendungan Hilir (Benhil) pada detikfood (17/6). Ia mengelola usaha keluarga yang dirintis sang ayah, Haji Bagindo Sudirman.

Takana Juo berlokasi di Jalan Bendungan Hilir Nomor 3. Menempati ruko kecil, tempat makan sate Padang ini mudah dikenali dari spanduknya yang mencolok. Lokasinya tak jauh dari Rumah Makan SURYA yang juga terkenal di sana.

Agus menjelaskan sate Padang racikannya adalah gagrak Pariaman. “Ciri khasnya kuahnya berwarna merah, kebetulan di Jakarta (saya buat) nggak terlalu merah-merah banget karena kan orang nggak suka pedesnya. Ini dibuat pedesnya sedang,” katanya.

Sementara sate Padang Bukittinggi memiliki kuah kuning yang pekat dan terang dengan rempah utama kunyit. Lain lagi dengan di Padang. “Kalau di Padang, agak kemerahan, merahnya kayak merah gelap,” jelas Agus.

Sate Padang Takana Juo diracik dari puluhan rempah. Semua masih dibuat dengan resep yang sama sejak 1979.

Berawal dari gerobak kaki lima di Pasar Benhil

Takana Juo, Sate Padang Pariaman yang Eksis Lezatnya Sejak 1979Takana Juo, Sate Padang Pariaman yang Eksis Lezatnya Sejak 1979 Foto: detikfood

Mengenai sejarah Sate Padang Takana Juo, Agus mengenang dulunya sang ayah sempat berjualan keliling. Lalu menetap dengan gerobak di Pasar Bendungan Hilir pada tahun 1979.

“Tapi pasar dibongkar, (akhirnya) selama 7 tahun ini pindah ke ruko Bendungan Hilir. Berdekatan, nggak jauh (dari lokasi awal),” katanya.

Takana Juo sendiri memiliki arti istimewa. “Artinya ‘teringat selalu’,” kata Agus. Pria ramah ini mengatakan Takana Juo sekarang hanya punya satu cabang yaitu di lobi timur Pasar Mayestik.



Source link

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
HUMAS BPD PHRI JABAR We would like to show you notifications for the latest news and updates.
Dismiss
Allow Notifications