BeritaJawa Barat

Tempat Makan Hanya Terima Take Away, Puluhan Kafe di Bandung Alami Penurunan Bisnis, Ada yang Tutup

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG – Berbagai kafe dan restoran yang ada di Bandung saat ini hanya menerima pesanan take away atau dibawa pulang karena adanya pemberlakuan pembatasan sosial berkala besar.

Adanya pengetatan ini dilakukan karena jumlah kasus Covid-19 di Bandung yang terus meningkat.

Melihat situasi ini pengusaha kafe dan restoran yang tergabung dalam Asosiasi Kafe dan Restoran (AKAR) dan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia menjelaskan keadaan pengusaha saat ini.

Ketua AKAR, Arif Maulana memberikan ulasan atau rekomendasi untuk Pemerintah Kota Bandung dan Dinas-dinas terkait.

Melalui keterangan rilis yang disebarkan, Arif mengatakan, AKAR mengusulkan agar dilakukannya revisi terhadap Perwal Kota Bandung No.61 Tahun 2021 tentang PPKM Kota Bandung untuk diselaraskan dengan Surat Edaran Menteri Kordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia tanggal 21 Juni 2021
(HM.4.6/158/SET.M.EKON.3/06/2021) dan Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 14 tahun 2021.

“Dimana dalam pelaksanaannya Perwal Kota Bandung berbenturan dengan surat edaran dan instruksi menteri yang disebut sebelumnya, terutama pada poin pelarangan dine in 0 persen untuk kafe dan restoran di Kota Bandung,” tulisnya, Kamis (23/6/2021).

Selain jtu juga, Arif menyebutkan jika AKAR – PHRI Kota Bandung mengusulkan agar pemerintah Kota Bandung dapat melibatkan organisasi atau asosiasi mitra pemerintah sebagai objek terkait dalam merumuskan kebijakan yang berkaitan dengan usaha kafe dan restoran.

Baca juga: Masuki PPKM Tahap 9, Kasus Covid-19 di Majalengka Terus Bertambah, Tak Ada Kecamatan Zona Hijau

Sejak pandemi Covid-19 ini, Arif mengatakan, kafe dan restoran di Kota Bandung melakukan berbagai cara untuk bertahan dengan tetap mengikuti kebijakan pemerintah kota yang ada.

“Kebijakan tersebut berdampak kepada dirumahkannya banyak karyawan hingga ditutupnya sejumlah unit usaha,” tulisnya.

Dari survey yang dilakukan oleh AKAR dalam 23 Juni 2021 tercatat 50 kafe dan restoran menyampaikan penurunan bisnis yang sangat signifikan, beberapa sudah tutup dan memutus hubungan kerja.

Survey ini masih berlangsung dan hasil akhirnya nanti akan dilampirkan dalam surat kepada Pemerintah atau dipresentasikan dalam audiensi.

Sebagaimana diketahui, kafe dan restoran sebagai elemen pariwisata merupakan penyumbang pendapatan daerah (PAD) terbesar untuk Kota Bandung.

Maka, dapat dikatakan bahwa elemen pariwisata adalah penggerak roda perekonomian Kota Bandung.

“Saya khawatir kebijakan tersebut berdampak pada lamanya waktu pemulihan ekonomi secara makro maupun mikro, ” ujarnya.

Baca juga: Masuki PPKM Tahap 9, Kasus Covid-19 di Majalengka Terus Bertambah, Tak Ada Kecamatan Zona Hijau

Source link

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
HUMAS BPD PHRI JABAR We would like to show you notifications for the latest news and updates.
Dismiss
Allow Notifications