BeritaJawa Barat

Pastikan Kesehatan Saat Membeli, Dua Penyakit Ini Kerap Menyerang Hewan Kurban

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNGHari Raya Idul Adha tidak lama lagi dan sudah banyak masyarakat yang mulai membeli hewan qurban. Untuk mengingatkan kembali, masyarakat diimbau lebih teliti saat membeli hewan qurban.

Hal ini perlu dilakukan salah satunya memperhatikan faktor kesehatan dari hewan qurban tersebut.

Dikutip dari laman resmi UGM, dalam memilih hewan kurban kesehatan menjadi salah satu faktor utama yang harus diperhatikan. Dengan memiliki wawasan mengenai penyakit hewan ternak kita dapat lebih cermat dalam memilih hewan ternak untuk kurban.  Halini dikemukakan oleh Dr. drh. Soedarmanto Indarjulianto, Dosen Fakultas Kedokteran Hewan UGM pada Bincang Desa yang diselenggarakan oleh Desa Apps UGM pada Sabtu (26/6).

Baca juga: Kasus Covid-19 Meningkat, Cara Pengemasan Hewan Qurban Ini Bisa Jadi Pilihan, Praktis dan Tahan Lama

“Seperti karakteristik penyakit pada manusia, penyakit hewan dapat dibagi menjadi dua yaitu infeksius dan non infeksius. Pada penyakit infeksius sering disebabkan oleh agen yang hidup sedangkan non infeksius tidak,” jelasnya.

Contoh penyakit infeksius adalah cacing hati, antraks, dan TBC. Sedangkan penyakit yang non infeksius antara lain kembung, keracunan, dan hipokalsemia (kekurangan kalsium).

Namun yang paling sering ditemui pada hewan kurban adalah cacing hati dan antraks.

Cacing hati dan antraks dapat juga memberikan pengaruh buruk bagi kesehatan manusia.

Baca juga: Qurban Prioritas, BMM Jabar Berbagi Kepada Para Penghafal Al-Quran di Kabupaten Bandung Barat

“Biasanya penyakit cacing hati berlangsung lama dan menyerang pada hewan yang sudah dewasa,” imbuh Soedarmanto.

Untuk mengidentifikasi penyakit cacing dapat melihat gejala klinis yaitu kurus, terkadang diare, serta rambut dan kulit hewan menjadi kusam.

Selanjutnya perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium dengan sampel feses dan darah. Tindakan penangannya juga harus diputuskan oleh dokter hewan.

“Kemudian pada hewan yang terkena antraks tidak mudah untuk melihat gejalanya, namun seringkali hewan mati mendadak dengan lubang alami yang mengeluarkan darah berwarna hitam,” tuturnya.

Antraks dapat menular pada manusia ketika mengonsumsi daging hewan atau kontak langsung dengan hewan yang memiliki penyakit ini.

Oleh karena itu, hewan ternak yang memiliki penyakit antraks tidak boleh untuk disembelih dan harus dilaporkan ke Dinas Kesehatan Hewan Peternakan terkait karena perlu dilakukan penanganan lebih lanjut.

“Pada hewan yang memiliki penyakit antraks akan dilakukan isolasi dan ketika proses penanganan hewan yang sudah mati pun membutuhkan perhatian yang khusus,” jelas Soedarmanto.

Edukasi terkait penyakit hewan kurban diharapkan dapat menjadi wawasan bagi peternak sekaligus masyarakat umum sehingga dapat lebih cermat dalam memilih hewan kurban. Akses video lengkapnya pada link berikut https://www.youtube.com/watch?v=IyKpNz8upK4

Source link

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
HUMAS BPD PHRI JABAR We would like to show you notifications for the latest news and updates.
Dismiss
Allow Notifications