BeritaJawa Barat

Menangis Setelah Anthony Ginting Menang, Agus Utom Ingat Saat Melatihnya Ketika Kecil di Klub Ini

Laporan wartawan TribunJabar.id, Cipta Permana

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG – Keberhasilan atlet bulutangkis nomor tunggal putra, Anthony Sinisuka Ginting meraih medali perunggu dalam ajang Olimpiade Tokyo 2020, tidak terlepas dari jasa para pelatih yang menempanya sejak kecil di PB SGS (Sangkuriang Graha Sarana) PLN Bandung. 

Memulai karier dari klub yang melahirkan banyak pebulutangkis profesional yang berprestasi di kancah internasional, pemuda kelahiran Cimahi 20 Oktober 1996 tersebut, telah merasakan tangan dingin dari banyak pelatih sejak usianya masih anak-anak, salah satunya, Agus Utom yang berkesempatan melatih Anthony Sinisuka Ginting saat usianya baru menginjak 10 tahun.

“Perlu saya sampaikan bahwa saya bukan satu-satunya pelatih yang pernah melatih Anthony selama di PB SGS PLN Bandung camp Cijerah, kalau dulu namanya PB Tunas. Saya bergabung dengan PB Tunas tahun 2005, dan saat itu Anthony sudah ada, saat itu usianya masih sembilan atau 10 tahun, dan dia di sana sudah berlatih sekitar dua sampai tiga tahun sebelum bertemu saya, Anthony saat itu masih belajar memegang raket  secara tepat dan mengikuti beberapa program latihan dasar,” ujarnya saat ditemui di Lapangan Pajajaran, Kota Bandung, Selasa (3/8/2021).

Selama melatih Anthony dan banyak calon atlet lainnya di PB SGS PLN Bandung, Ia menjabat sebagai asisten pelatih reguler bersama tiga rekannya, yaitu Ade Rukmana, Asep Cikalong, dan Tuteng, di bawah  pelatih kepala yang juga penanggung jawab klub, Koh Cocong. 

Meski demikian, guna mengasah dan mematangkan kemampuannya, Anthony pun mengikuti program latihan tambahan khusus dari dua orang pelatih, yaitu Ade Rukmana, yang kini menjadi pemilik PB ABC (Ade Badminton Club) Bandung dan Dian, yang kini mendirikan PB Dian Mustika di Kota Cimahi.

“Di PB SGS PLN Bandung, kami berempat bersama Koh Cocong melatih Anthony di kelas reguler dari kecil usia sekitar 6 atau tujuh tahun sampai usianya 13 tahun. Begitu masuk kelas pemula remaja, Anthony ditangani langsung oleh Bapak Ii Sumirat, dan sekarang di Pelatnas, oleh Hendri Saputra Ho. Jadi dia (Anthony) sangat banyak gurunya. Bahkan, di mana Anthony pergi dan berada, peralatan badminton tidak pernah lepas dari bagasi mobilnya, sehingga tiap ada kesempatan latihan sparing partner, ia selalu siap,” ucapnya.

Pelatih yang telah mengabdi untuk PB SGS PLN Bandung selama 16 tahun tersebut menjelaskan, bahwa sejak kecil Anthony merupakan salah seorang pemain yang memiliki bakat sebagai atlet badminton, meskipun kemampuan belum mampu berprestasi di setiap ajang kompetisi. Bahkan, dalam pertandingan latihan dengan rekannya di klub, Anthony kecil masih kerap kalah. 

Akan tetapi, karena memiliki mental petarung dan mau untuk mengevaluasi setiap kesalahannya, akhirnya Anthony mampu menunjukkan kualitasnya dalam berbagai ajang turnamen yang diikutinya, seperti Sirkuit Nasional (Sirnas), meskipun tidak selalu juara satu, namun capaian prestasinya terus bertahap.

“Selain mental, kemauan bekerja keras, dan kemampuan, tapi juga ada faktor dukungan serta rezeki besar yang dimiliki Anthony sehingga ia mampu berprestasi hingga saat ini, termasuk di Olimpiade Tokyo 2020 kemarin,” ujarnya.

Source link

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
HUMAS BPD PHRI JABAR We would like to show you notifications for the latest news and updates.
Dismiss
Allow Notifications