Travel

Dear Pecinta Seni, Nandursrawung #8 Sudah Dibuka Nih

Yogyakarta

Pameran seni rupa garapan Dinas Kebudayaan DIY melalui UPT Taman Budaya resmi dibuka tadi malam (10/8). Pameran yang menghadirkan 72 karya dari seniman dalam negeri maupun luar negeri ini berlangsung secara luring dan daring selama 10 hari 10-19 September 2021.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Laksmi Pratiwi membuka pameran ini secara langsung di Taman Budaya dengan disiarkan langsung melalui akun Youtube Taman Budaya Yogyakarta.

“Pergelaran Nandursrawung #8, ecosystem Pranatamangsa diambil, memaknai korelasi hubungan manusia dengan manusia dan alam semesta. Selaras dengan Hamemayu Hayuning Bawono, yaitu membangun hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan, dan manusia dengan Tuhan,” kata Dian, saat membuka, tadi malam (10/9/2021).

Ia mengatakan, tema tersebut juga merupakan bentuk empati dari seniman terhadap kondisi pandemi saat ini.

“Terutama kepada nakes, pasien yang kemudian digabung menjadi satu kesatuan kolaborasi,” jelasnya.

Pada pergelaran yang sudah berlangsung selama delapan tahun ini, lanjut Dian, pihaknya mengaku cukup bangga. Sebab, dari 167 seniman yang berpartisipasi dalam pameran ini, ada dari mancanegara.

“Menjadi kebanggaan, tidak hanya diikuti dari Indonesia. Tapi mancanegara, Austria, Swiss, Jepang,” katanya.

Pada even pameran ini, Nandursrawung #8, juga memberikan dua penghargaan. Pertama adalah life achievement award. Penghargaan ini diberikan kepada Dr Melani W Setiawan, yang sudah puluhan tahun mendampingi seniman di Indonesia.

Kemudian, penghargaan young rising status program open call dengan usia di bawah 35 tahun, punya potensi yaitu Diah Retno Fitriani seniman asal Medan yang studi di ISI Yogyakarta berusia 27 tahun.

Salah Saru kurator pameran Rain Rosidi menjelaskan, pemilihan tema terhadap pandemi COVID-19 memiliki alasan kuat. Para perupa diberikan kebebasan dalam merepresentasikan tema. Hingga hadir dengan ide kreatif sesuai bidang keilmuan dan karakter masing-masing perupa.

“Tema Ecosystem: Pranatamangsa melihat bagaimana relasi dengan sesama manusia dan manusia dengan alam semesta. Bagaimana kemampuan dalam membaca tanda-tanda,” jelasnya.

Lokasi pameran, lanjut Rain, tetap sama dengan tahun-tahun sebelumnya, Taman Budaya Yogyakarta. Bedanya penyelenggaraan pameran berlangsung lebih singkat hingga 19 September 2021. Alasannya karena berlangsung di tengah Pandemi Covid-19.

Rain menjelaskan ide besar dari pameran Nandur Srawung tetaplah sama. Merupakan ajang pertemuan seniman perupa dengan ragam basis seni. Mulai dari seni lukis, patung, grafis, kriya, disain, hingga seni performance dan media baru.

“Nandur Srawung kali ini masih diselenggarakan di tengah pandemi ditengah kungkungan. Kehidupan manusia lambat laun berangsur porsinya semakin besar memasuki dunia digital. Termasuk dalam pameran ini,” katanya.

Pameran berlangsung dengan konsep kunjungan adaptasi. Artinya menyesuaikan kondisi pandemi COVID-19. Pengunjung pameran secara luring berlangsung terbatas. Walau begitu karya tetap bisa dinikmati secara daring.

“Pameran kali ini juga bertujuan memperoleh gambaran produk kreatif terbaru dari para seniman. Karya dikerjakan yang terkadang memberikan kejutan,” ujarnya.

Kurator lainnya Bayu Widodo menilai para perupa mampu merepresentasikan tema secara apik. Hadir dengan pandangan yang berbeda-beda. Namun sikap ini justru menjadi cerminan arah karya seni di Indonesia.

Dia menjelaskan pameran juga mengacu pada teori Blophilia. Bayu menjelaskan kerangka pikir ini telah dipelajari masyarakat agraris dan maritim Jawa. Mampu mengumpulkan informasi mengenal perubahan iklim dan menghubungkannya dengan aktivitas sehari-hari mereka.

“Sistem ini digunakan untuk membantu mereka dalam melakukan aktivitas bertani maupun nelayan,” ujarnya.

Keunikan dari pameran kali ini adalah adanya pameran luar ruang. Melibatkan empat seniman street art. Merespon kondisi terkini dengan fokus dukungan terhadap para pekerja kesehatan. Termasuk masyarakat yang terdampak pandemi.
“Ada 4 titik yang bekerja di jalanan. Mulai dari shelter Panggungharjo, simpangempat Ngampilan, di sekitar RS Bethesda dan sekitar RS Panti Rapih,” katanya.

Simak Video “Gadis Remaja Bertemu Ibu Kandung Usai Terpisah 15 Tahun
[Gambas:Video 20detik]
(sym/sym)





Source link

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
HUMAS BPD PHRI JABAR We would like to show you notifications for the latest news and updates.
Dismiss
Allow Notifications