Travel

Weekend di Jakarta ke Museum? Enggak Melulu soal Sejarah, Lho


Jakarta

Banyak museum di Jakarta yang bisa kamu kunjungi di akhir pekan. Asyik juga kan weekend main ke museum dan dapat ilmu? Cus!

Kamu yang belum sempat ke luar kota karena keterbatasan waktu, bisa nih main=main ke museum di Jakarta. Banyak lho, mulai dari bertema kelautan, seni, hingga dunia penerbangan bisa kamu kunjungi.

detikcom telah merangkum nih, Jumat (26/11/2021) beberapa museum yang bisa kamu kunjungi untuk seru-seruan dan juga menambah wawasan.

1. Museum Fatahillah

Museum ini pada masa Belanda difungsikan sebagai balai kota, pengadilan, kantor catatan sipil, tempat ibadah, hingga tempat Dewan Kotapraja. Baru pada tahun 1968, gedung itu diresmikan sebagai Museum Sejarah Jakarta atau lebih dikenal sebagai Museum Fatahillah.

Di sana dapat melihat bermacam-macam koleksi peninggalan Kerajaan Tarumanegara dan Padjajaran. Selain itu, ada juga furnitur yang digunakan saat Belanda berkuasa. Spot menarik dari Museum Fatahillah adalah penjara bawah tanahnya. Penjara ini menjadi saksi penderitaan para pendahulu kita dalam upaya melawan penjajahan.

Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah sudah dibuka kembali, Sabtu (20/6/2020). Protokol kesehatan sangat ketat diberlakukan.Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah sudah dibuka kembali, Sabtu (20/6/2020). Protokol kesehatan sangat ketat diberlakukan. Foto: Tripa Ramadhan

Museum ini ada di Kota Tua, Jakarta. Di sini juga tersedia musholla dan toilet. Selain itu, dekat dengan kafe dan restoran.

2. Museum Bank Indonesia

Sejarahnya, tempat ini dulunya merupakan rumah sakit bernama Binnen Hospital. Kemudian tahun 1828 dialihfungsikan menjadi bank dengan nama De Javashe Bank (DJB).

Pada tahun 1953, bank tersebut menjadi Bank Sentral Indonesia atau Bank Indonesia (BI). Kemudian, BI pindah ke gedung baru pada tahun 1962. Gedung lama kemudian menjadi Museum Bank Indonesia. Di sana kita akan mendapat pengetahuan tentang sejarah terbentuknya bank sentral di Indonesia.

Ketika memasuki lobi museum, kita akan melihat sebuah kaca patri yang sangat indah. Ada juga sebuah lukisan unik dan antik lainnya.

3. Museum Nasional

Museum Nasional dikenal juga dengan nama Museum Gajah yang berperan sebagai museum arkeologi, sejarah, etnografi, keramik, prasejarah dan geografi yang memiliki koleksi yang sangat banyak.

Museum ini berada di Jakarta Pusat berdekatan dengan Monas. Banyak benda-benda kuno yang disimpan yang menggambarkan seperti apa orang-orang sebelum kita hidup lho. Terkadang juga ada acara pameran dan pelatihan gamelan yang bisa diikuti pengunjung.

Museum Nasional Indonesia terletak di Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Di masa pemberlakuan PSBB ketat oleh Pemprov DKI Jakarta, Museum Nasional Indonesia sempat ditutup kembali selama beberapa pekan.Museum Nasional Indonesia terletak di Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Di masa pemberlakuan PSBB ketat oleh Pemprov DKI Jakarta, Museum Nasional Indonesia sempat ditutup kembali selama beberapa pekan. Foto: Rengga Sancaya

4. Museum Maritim

Sesuai dengan namanya, museum ini menyimpan kejayaan maritim Nusantara. Letaknya tak jauh dari Pelabuhan Sunda Kelapa.

Dulunya museum ini berfungsi sebagai gudang penyimpanan hasil bumi yang merupakan komoditas utama VOC ini. Sekarang di sini kamu bisa melihat berbagai perahu serta replika perahu serta alat-alat yang dahulunya digunakan pada era VOC.

5. Museum Seni Rupa dan Keramik

Berada di Kota Tua Jakarta, Museum Seni Rupa dan Keramik juga menarik nih dikunjungi. Dulunya, ini berfungsi sebagai Kantor Pengadilan pada era Gubernur Jenderal Pieter Miyer.

Seiringnya waktu berjalan, pada 1949, bangunan difungsikan sebagai Nederlansche Mission Militer (NMM) oleh KNIL. Kkemudian menjadi kantor Wali Kota Jakarta Barat pada 1970-1973 lalu kantor Dinas Museum dan Sejarah pada 1974.

Gedung ini resmi menjadi Balai Seni Rupa pada 20 Agustus 1976. Pada awal tahun 1990 keseluruhan bangunan resmi menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik. Sesuai namanya, museum ini menyimpan koleksi karya para seniman-seniman Indonesia sejak era 1800-an hingga saat ini.





Source link

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker